Sudah tau bahaya pestisida bagi kesehatan, jika tidak digunakan dengan bijak?

Penggunaan pestisida pada komoditas pertanian menimbulkan potensi bahaya bagi kesehatan manusia. Kebanyakan bahaya pestisida bersifat akumulatif di dalam tubuh dan berpengaruh pada tubuh. Paparan pestisida ini dapat terjadi pada petani (terutama petani perempuan) dan masyarakat di sekitar lokasi pertanian. Paparan terjadi melalui kontak langsung dengan pestisida maupun melalui udara, tanah, air yang tercemar atau bahkan produk pertanian yang di dalamnya terdapat residu pestisida berlebih. Oleh karena itu kita perlu tau apa saja bahayanya dan bagaimana mencegahnya.

 

1. Pestisida dapat menyebabkan kemandulan

Salah satu jenis herbisida yang berhubungan dengan isu ini adalah atrazine. Atrazine adalah herbisida yang banyak digunakan dalam mengendalikan gulma pada pertanian tebu dan terdeteksi dalam air keran. Para ilmuwan dan dokter menyatakan bahwa pestisida jenis ini meningkatkan resiko keguguran dan kemandulan akibat penurunan kualitas dan mobilitas sperma. Hal ini diperkuat hasil review Environmental Protection Agency (EPA) pada tahun 2009 bahwa kelompok herbisida ini menimbulkan efek buruk bagi kesehatan reproduksi manusia.

2. Pestisida dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi

Paparan pestisida selama proses kehamilan pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko keguguran spontan, selain itu terdapat beberapa potensi gangguan kesehatan pada calon bayi diantaranya resiko terkena leukimia, gangguan kecerdasan, spina bifida, bibir sumbing, kaki pengkor dan sindrom down. Hal ini disebabkan oleh selama masa perkembangannya, janin belum mampu mendetoksifikasi racun yang ada. Studi lain yang dilakukan di Amerika, menunjukkan bahwa perempuan yang tinggal di daerah yang penggunaan pestisidanya tinggi, mempunyai resiko 1,9 sampai 2 kali lebih tinggi beresiko melahirkan bayi dalam keadaan cacat, dibandingkan perempuan yang bertempat tinggal di daerah yang tidak menggunakan pestisida.

 

3. Pestisida dapat mempengaruhi hormon

Menurut situs Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian pestisida antiandrogen dapat menyebabkan perubahan orientasi seksual. Kondisi ini terjadi dengan tanda-tanda anak laki-laki yang mengalami demasculinisation yaitu hilangnya sifat-sifat maskulin. Sementara pada anak-anak perempuan mengalami defeminimisation yakni hilangnya karakter feminim pada anak perempuan.

 

4. Pestisida dapat menyebabkan diabetes

Diabetes Care merilis beberapa jurnal yang menyatakan hubungan antara paparan pestisida terhadap timbulnya penyakit diabetes. Orang-orang yang mengalami kelebihan berat badan dan di dalam tubuhnya terdapat pestisida golongan organoklorin beresiko terkena penyakit diabetes.

5. Pestisida dapat menyebabkan kanker

Situs berita nasional Kompas (3/6/2013), menuliskan berita tentang sejumlah temuan kasus penyakit kanker pada sejumlah petani dan buruh perkebunan di Kabupaten Mesuji Lampung. Menurut keterangan Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung saat itu telah ditemukan minimal 10 kasus kanker ringan dan ganas di sejumlah desa kabupaten tersebut. Kanker menyerang bagian sekitar telinga dan leher

 

Lalu bagaimana solusi menghadapi ancaman kesehatan dari pestisida tersebut?

Bagi petani dan pelaku pertanian, sangat penting mulai memandang pengendalian organisme pangganggu tanaman dari pendekatan kesehatan dan keramahan lingkungan. Salah satu cara yang mesti dijadikan kiblat adalah pengendaliah hama penyakit tanaman terpadu (PHT). Melalui teknik ini pengendalian OPT tidak hanya menitikberatkan pada aplikasi pestisida di lapangan melainkan cara-cara alternatif yang tidak berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan

Bagi konsumen produk pangan utamanya buah dan sayur, sangat disarankan untuk mencuci buah dan sayur yang hendak di konsumsi. Perlu diketahui menurut rilis daftar buah dan sayur yang paling banyak terkontaminasi pestisida oleh Environmental Working Group, terdapat 12 buah dan sayur dengan residu pestisida tertinggi, yaitu: Apel, stoberi, anggur, seledri, persik (peach), bayam, paprika, nectarin, mentimun, kentang, tomat ceri dan cabai. Oleh karena itu tindakan mencuci dan mengupas buah serta memasak sayur sebelum dikonsumsi adalah hal yang penting untuk dilakukan.

 

 

Sebelum mencuci buah dan sayur pastikan kita telah mencuci tangan terlebih dahulu. Setelahnya pastikan seluruh permukaan buah atau sayur tercuci. Sebaiknya mencuci buah atau sayur dilakukan dengan menggunakan air yang mengalir selama 1 menit. Khusus untuk buah atau sayur yang kulitnya dimakan, cuci dengan gerakan memijit lembut agar kotoran yang menempel pada permukaan dapat hilang. Sebagai tambahan buah atau sayuran dapat direndam dalam larutan air dan cuka atau air jeruk dengan perbandingan air 3 bagian dan cuka/air jeruk 1 bagian. Rasa asam akan membunuh kuman dan bakteri pada sayuran. Setelah tahapan pencucian selesai, tiriskan buah dan sayur atau lap dengan lap kering yang bersih. Kemudian kemas rapi di dalam wadah bersih dan simpan dalam lemari es. Tapi ingat ini hanya akan mengurangi residu pada permukaan luar buah dan sayur. Untuk menghindari dampak lebih besar, ada baiknya kita menanam sendiri makanan yang akan kita makan. (ms)

 

image source:

1. apple

2. sterille

2. down syndrom

3. demasculinisation

4. diabetes

5. cancer

6. IPM

7. washing